METODOLOGI SURVEY DENGAN TEKNIK NON PROBABILITY

19 Aug 2020 imran Alwi 0 Materi Statistika

METODOLOGI SURVEI DENGAN TEKNIK NONPROBABILITY SAMPLING

Teknik nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi kesempatan sama bagi semua anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Artinya, pengambilan sampel didasarkan kriteria tertentu seperti judgment, status, kuantitas, kesukarelaan dan sebagainya. Penarikan sampel tak berpeluang (nonprobability sampling) penarikan contoh yang dilakukan daripopulasidenganciri-cirisebagaiberikut: (1) pemilihan tidak dilakukan secara acak; (2) generalisasi terhadap populasi agak sulit dilakukan; (3) sering digunakan dalam penelitian sosial, marketing research, dll., (4) karenaProbability Sampling tidak praktis atau bahkan tidak dapat diterapkan. Teknik nonprobability sampling yang popular digunakan adalah: Purposive Sampling, Accidental Sampling, Snowball Sampling, Quota Sampling, danVolunteer Sampling.

Purpossive Sampling (penarikancontoh bertujuan)

Teknik ini merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu. Tidak semua populasi bisa dideteksi dengan jelas dimana mereka berada.  Jika populasi kita adalah pengguna rokok tertentu, bagaimana kita bisa menggunakan penarikancontohacakberpeluang. Cara yang termudah adalah kita datang ke suatu tempat, jika ketemu orang yang merokok merk yang kita inginkan dia kita jadikan responden.

Accidental sampling

Dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini, hasilnya ternyata kurang obyektif.

Snowball Sampling

Snowball  adalah teknik pengambilan sampel dari sampel yang jumlahnya kecil kemudian membesar, seperti halnya bola salju. Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukkan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa menghentikan pencarian wanita lesbian lainnya. Hal ini bisa juga dilakukan pada pencandu narkotik, para gay, atau kelompok-kelompok sosial lain yang eksklusif (tertutup).

3.4 Quota Sampling

Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja. Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60% dan perempuan 40%. Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Teknik pengambilan ketigapuluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja.

Volunteer Sampling

Volunteer sampling adalah teknik yang dilakukan jika satuan sampling dikumpulkan atas dasar sukarela. Metode yang paling umum dari jenis sampling ini adalah sampling melalui telepon. Sampling semacam ini sering digunakan oleh stasiun televise untuk mengumpulkan opini publik mengenai isu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat seperti partai politik yang paling banyak didukung, capital punishment, dan sebagainya. Masyarakat diminta untuk menelepon dan memberikan suara mereka dalam jangka waktu tertentu, tanpa ada batasan jumlah orang yang dapat menelepon. Sayangnya tidak ada batasan berapa kali orang yang sama dapat memberikan suara mereka. Karena itu hasil dari sampling ini sering tidak representatif. Selain itu kemungkinan pendapat orang-orang yang menelepon berbeda dengan pendapat orang-orang yang tidak menelepon. Kemungkinan hasil sampling ini akan bias sangat besar, karena hanya orang-orang yang punya telepon dan yang menyaksikan televisi pada waktu tersebut saja yang mengetahui adanya survei.

 

BY: imran Alwi

Artikel terkait

Belum ada komentar, Jadilah yang pertama mengomentari.